Assalamualaikum.Do Follow Me? Back To Dashboard? Nice To Meet You.Visit Here Again =3
Status
Say, “My prayer, my offering, my life and my death are for Allah, the Lord of all the worlds.” - The Holy Quran [6:162]
Kisah Teladan Islamik
Assalamu'alaikum....Selamat datang ke blog Kisah Teladan Islamik....Peace be to you....Welcome to Kisah Teladan Islamik blog...:)
Showing posts with label KISAH SAHABAT. Show all posts
Showing posts with label KISAH SAHABAT. Show all posts

04/06/2012

Author : Unknown Time : 1:45:00 pm Total Comment : 0

~♥~ GAYA PEMERINTAHAN UMAR ABDUL AZIZ ~♥~




1. Umar Abdul Aziz Yang Adil


Pada suatu malam, Umar Abdul Aziz melihat dokumen-dokumen kerajaan di rumahnya dibawah cahaya bilik yang suram yang sekaligus memberikannya ketenangan untuk menelaah. Keadaan ini menyebabkan kehadiran isterinya, Fatimah tidak langsung disedarinya yang kemudian menyapanya.

“Yang mulia! Bolehkan kau luangkan sedikit masamu untukku sejenak? Aku ingin merundingkan mengenai hal peribadi denganmu,” kata Fatimah dengan hormat.

“Tentu sahaja,” jawab Umar lalu berpaling dari kertas-kertas di atas mejanya, kemudian menyambung, “Tapi tolong matikan lampu itu, lampu milik negara, dan nyalakan lampumu sendiri. Aku tidak mahu memakai minyak negara bagi membicarakan hal peribadi,” jawabnya.

Sebagai isteri yang patuh, Fatimah menuruti kehendak Umar.

2. Umar Mengelak Pembaziran

Pada suatu hari, Umar mengundang beberapa pemimpinnya untuk makan malam dirumahnya. Sebelum itu, dia memerintahkan tukang masaknya agar melewatkan penyiapan masakan.

Pada saat para tetamunya mula merintih kelaparan, barulah dia meminta jurumasaknya menyediakan santapan. Sebagai mengalas perut, dia menghidangkan dahulu roti panggang. Makanan yang sederhana ini segera dimakan oleh Umar dan tetamunya yang kelaparan. Kemudian, makanan siap dimasak dan dihidangkan tetapi ditolak oleh para tetamu yang kekenyangan.

Umar yang amat memahami tingkah laku tetamunya segera berkata, “Wahai saudaraku, jika kau mampu makan dengan makanan yang sederhana lalu mengapa kau sewenang-wenangnya merampas hak milik orang lain?” Ucapan ini ternyata memberikan keinsafan kepada tetamunya sehinggakan mereka menitiskan airmata.

3. Umar menolak hadiah dan suapan

Pernah seseorang menghadiahkan Umar sebakul buah epal kepadanya. Umar amat menghargai pemberian itu, tetapi dia menolak permintaan itu dengan baik. Orang itu memberikan contoh Nabi yang pernah menerima hadiah pemberian sahabat.

“Hadiah itu tidak dapat disangsikan lagi memang untuk Nabi, tetapi andai diberikan kepadaku, ia merupakan satu suapan,” jawab Umar.

4. Ketegasan Umar

Umar membawa banyak pembaharuan dalam pentadbiran, kewangan dan pendidikan. Anaknya, Abdul Malik pernah menasihati Umar agar mengadakan pembaharuan dengan lebih tegas.

“Anakku, ketegasan hanya akan berhasil melalui mata pedang. Tetapi pembaharuan tidak akan mendatangkan manfaat yang baik melalui mata pedang,” Umar menjawab,

Umar memang tidak berminat menyebarluaskan Islam melalui mata pedang dan menjalankan misinya dengan damai dengan mengajak mereka memeluk Islam secara aman.

5. Sikap tawadduk Umar

Pada suatu malam, Umar bin Abdul Aziz sedang menulis di kediamannya. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Seorang tetamu masuk dan berbincang sesuatu dengannya. Saat itulah lampu yang berada di atas meja Umar menjadi malap dan sepertinya kehabisan minyak.

Tetamu tadi terburu-buru bangkit dari duduknya. “Biar saya yang perbaikinya,” kata tetamu itu dengan tujuan untuk menambah minyak lampu itu.

“Bukanlah perbuatan mulia membiarkan tetamu melakukan kerja,” ujar Umar.

“Kalau begitu, biar saya bangunkan pembantumu!” kata tetamu itu lagi.

“Dia baru saja tidur,” jawab Umar lalu segera bangun dan mengisi minyak lampu.

“Apakah engkau sendiri yang melakukannya, wahai Amirul Mukminin?” tanya tetamu itu kehairanan.

“Sama ada aku melakukannya atau tidak, tetap saja aku Umar. Tidak ada yang berkurang dariku. Sebaik-baik orang adalah mereka yang tawadhu di sisi Allah,” jawab Umar.

Wallahualam....

03/06/2012

Author : Unknown Time : 9:50:00 pm Total Comment : 0

:::: Sejarah keji agama Syi'ah Rafidhah ::::







Banyak kaum muslimin yang tertipu oleh 'kegarangan' negara Syiah Rafidhah Iran terhadap Barat. Mereka menyangka Syiah Rafidhah adalah bahagian dari Islam, bahkan pahlawan yang membela kaum muslimin. Padahal Syiah Rafidhah adalah agama tersendiri di luar Islam. Syiah Rafidhah juga tidak membela kaum muslimin. Justeru sejarah Syiah Rafidhah sejak pertama muncul hingga hari ini selalu bersekongkol dengan musuh-musuh Islam dalam memerangi kaum muslimin.

Syiah Rafidhah bersekongkol dengan pasukan salib Eropah dalam menceroboh Palestin dan Syam pada masa perang Salib. Setelah itu Syiah Rafidhah bersekongkol dengan pasukan Mongol dalam menjatuhkan daulah Abbasiyah dan menakluk wilayah Islam. Negara Syiah Rafidhah Shafawiyah Iran juga bersekongkol dengan Inggeris, Perancis, Sepanyol, Portugis, dan Barat dalam memerangi daulah Uthmaniyah.

Kini, Syiah Rafidhah Iran bersekongkol dengan Syiah Yaman dan Syiah Nushairiyah dalam membunuh kaum muslimin. Untuk menutupi rahsianya, Syiah Rafidhah Iran menampakkan diri seakan-akan memusuhi Israel dan AS. Padahal banyak bukti menunjukkan persekongkolan mereka di belakang skrin demi memerangi kaum muslimin.

Berikut ini ringkasan sejarah agama Syiah Rafidhah , kanser umat dan penyakitnya yang ganas. Dengan izin Allah, saya menjelaskan peristiwa-peristiwa yang paling penting yang mempunyai kaitan langsung dengan sejarah Syiah Rafidhah dalam memerangi kaum muslimin. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum.

Dengan nama Allah, saya memulai:

14 H: Tahun ini merupakan asal muasal cekikan kelompok Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin. Hal itu dikeranakan pada tahun ini terjadi perang Qadisiyah, di mana kaum muslimin meraih kemenangan atas kekalahan nenek moyang kelompok Rafidhah, yaitu bangsa Persia Majusi. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khathab RA.

16 H: Ibu kota imperium Persia, Madain, jatuh ke tangan kaum muslimin. Peristiwa ini meninggalkan kekecewaan, kemarahan, dan kebencian yang mendalam dalam hati kelompok Rafidhah.

23 H: Abu Lu’luah al-Majusi membunuh khalifah Umar bin Khatab RA. Kelompok Rafidhah memberi Abu Lu’luah gelar Baba Alauddin, sebagai simbol dan tokoh penting mereka dalam memerangi Islam.

34 H: Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi dari Shan’a yang bergelar Ibnu Sauda’ muncul dan menampakkan dirinya masuk Islam secara lahir walaupun dalam hatinya memendam kekafiran. Ia mulai menggerakkan kelompok-kelompok untuk melawan khalifah Uthman bin Affan. Provokasinya berhasil dan orang-orang yang menjadi pengikutnya membunuh khalifah Uthman bin Affan pada tahun 35 H.

Aqidah Abdullah bin Saba’ memiliki akar pada ajaran Yahudi, Nasrani, dan Majusi yaitu penuhanan Ali bin Abi Thalib, pewasiatan kepemimpinan baginya, raj’ah (Ali akan hidup kembali di akhir zaman untuk menghukum lawan-lawan politiknya), wilayah, imam, bada’, dan lain-lain.

36 H: Satu malam sebelum terjadinya perang Jamal, kedua belah pihak sahabat berdamai dan bermalam dengan tenang. Adapun Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya tidak duduk diam. Mereka melakukan kekacauan di kedua belah barisan sehingga mereka berhasil menyebabkan kesalah fahaman dan peperangan di antara kedua belah pihak. Pada masa kekhalifah Ali bin Abi Thalib, para pengikut Abdullah bin Saba’ (Saba’iyah) mendatangi Ali dan menyatakan secara terus terang bahawa Ali adalah Tuhan yang menciptakan dan memberi rezeki mereka. Ali meminta mereka untuk bertaubat namun mereka tidak mahu bertaubat, maka Ali menghukum mati mereka dengan hukuman bakar.

41 H: Tahun yang paling dibenci oleh kelompok Rafidhah, di mana kaum muslimin bersepakat untuk mengakui satu khalifah yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA. Hasan bin Ali mengundurkan dirinya dari jabatan khalifah dan tahun tersebut dikenal dengan nama tahun jama’ah. Rancangan Rafidhah untuk memecah belah kaum muslimin gagal.

61 H: Husain bin Ali RA terbunuh pada tanggal 10 Muharam setelah para pengikutnya mengkhianatinya dan membiarkannya sendirian menghadapi pasukan daulah Umawiyah.

260 H: wafatnya Hasan Al-Askari yang dianggap sebagai imam ke-11 kelompok Rafidhah. Maka muncul kelompok Rafidhah Itsna Asyariyah yang meyakini imam mereka adalah imam yang ditunggu-tunggu kerana masih bersembunyi di sebuah gua di Samira, yaitu Muhammad bin Hasan al-Askari. Padahal Hasan al-Askari meninggal tanpa memiliki anak. Rafidhah Itsna Asyariyah meyakini imam Muhammad bin Hasan al-Askari adalah imam Mahdi yang akan keluar untuk menegakkan kerajaan Rafidhah dan menghukum lawan-lawan politiknya.

277 H: Di kota Kufah muncul kelompok Qaramithah Rafidhah, dipimpin oleh Hamdan bin Asy’ats yang bergelar Qarmith.

278 H: Di Ahsa’ dan Bahrain muncul kelompok Qaramithah Rafidhah di bawah pimpinan Abu Sa’id al-Janabi ar-Rafidhi.

280 H: berdiri kerajaan Syiah Zaidiyah Rafidhah di Sha’dah dan San’a, Yaman, dengan pemimpinnya Husain bin Qasim ar-Rasi.

297 H: Berdiri kerajaan Ubaidiyah Rafidhah di Mesir dan Magrib (Moroko dan Afrika Utara), di bawah pimpinan Ubaidullah bin Muhammad al-Mahdi. Mereka menipu kaum muslimin dengan mengklaim sebagai keturunan ahlul bait dan mereka menamakan kerajaan mereka kerajaan Fathimiyah.

317 H: Pemimpin Qaramithah Rafidhah di Ahsa dan Bahrain, Abu Thahir ar-Rafidhi bersama kelompoknya berhasil menguasai kota Makkah pada hari Tarwiyah, 8 Dzulhijah. Mereka membunuh jema’ah haji di masjidil haram, membuang mayat-mayat mereka ke telaga zam-sam, dan mencungkil Hajar Aswad kemudian mereka bawa ke Ahsa’. Hajar Aswad tetap mereka kuasai di Ahsa’ sampai tahun 335 H. Adapun kekuasaan mereka di Ahsa’ bertahan sampai tahun 466 H.

Pada tahun 317 H berdiri pula kerajaan Hamdaniyah Rafidhah di Maushil (Iraq) dan Halb (Suriah). Kerajaan ini tumbang pada tahun 394 H.

329 H: Tahun ini oleh kelompok Rafidhah disebut tahun Ghaibah Kubra (persembunyian skala besar), di mana mereka mengklaim telah sampai kepada mereka sebuah surat dengan tanda tangan imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu. Menurut klaim mereka, dalam surat tersebut imam Mahdi menulis: “Telah terjadi ghaibah (persembunyian) secara sempurna maka tidak akan muncul kecuali setelah mendapat izin Allah. Maka barangsiapa mengklaim melihat aku nescaya ia adalah seorang pendusta yang mengada-ada.” Surat palsu tersebut mereka buat kerana para ‘dukun’mereka kesusahan menghadapi pertanyaan pengikut awam mereka tentang bila waktu kemunculan imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu.

334 H: berdiri kerajaan Buwaihiyah Rafidhah di Dailam dengan pemimpinnya Abu Syuja’ ad-Dailami. Mereka melakukan kerosakan di Baghdad dan pada masa mereka caci makian terhadap generasi sahabat beredar luas.

339 H: Hajar Aswad dikembalikan oleh pemimpin Qaramithah Rafidhah di Ahsa’ ke Makkah atas perantaraan raja Ubaidiyah Rafidhah Mesir.

352 H: Penguasa kerajaan Buawihiyah yang mendominasi kerajaan Abbasiyah memerintahkan rakyat untuk menutup pasar-pasar pada hari Asyura, melarang jual beli, menyalakan lilin, para wanita keluar rumah dengan rambut terurai dan menampar pipi di pasar-pasar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, di Baghdad dilaksanakan peringatan ratapan atas terbunuhnya Husain bin Ali.

358 H: Kelompok Ubaidiyah Rafidhah menguasai Mesir dan mendirikan kerajaan Ubaidiyah. Rajanya yang paling menonjol adalah Al-Hakim bin-Amrillah yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan mempropagandakan ajaran reinkernasi. Dengan runtuhnya kerajaan Ubaidiyah ini pada tahun 568 H, berdirilah kelompok Druz Bathiniyah.

402 H: Para ulama, pejabat, dan tokoh masyarakat di Baghdad berkumpul dan sepakat mengeluarkan fatwa tentang kepalsuan nasab penguasa Ubaidiyah Rafidhah Mesir, kecacatan akidah mereka, mereka adalah orang-orang zindiq dan kafir. Fatwa tersebut ditanda tangani oleh ulama, pejabat, dan tokoh masyarakat dari kalangan ahlus sunnah dan Syiah sendiri.

408 H: Penguasa Ubaidiyah Rafidhah Mesir, Al-Hakim bin-Amrillah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Ia dua kali merancang membongkar makam Nabi SAW dan memindahkan jenazah baginda ke Mesir. Rancangan pertama ditentang masyarakat Mesir. Rancangan kedua, ia mengirim orang-orangnya dengan menyewa rumah di dekat masjid nabawi. Mereka mulai menggali terowong ke arah makam Nabi SAW, namun usaha mereka terbongkar dan penduduk Madinah membunuh mereka.

483 H: Berdiri kelompok Hasyasyiyin yang mempropagandakan kekuasaan politik kerajaan Ubaidiyah Rafidhah Mesir. Pemimpinnya adalah Hasan ash-Shabah, yang memulai gerakannya dari propinsi Faris tahun 473 H.

500 H: Penguasa Ubaidiyah Rafidhah membangun bangunan makam di Mesir yang mereka namakan Tajul Husain (mahkota Husain). Mereka mengklaim di dalamnya ada kepala Husain bin Ali. Mereka berziarah ke bangunan makam tersebut sampai hari ini.

656 H: Pengkhianatan terbesar kelompok Rafidhah melalui pemimpinnya, Nashiruddin ath-Thusi dan Ibnu Alqami, yang bersekongkol dengan pasukan Mongol sehingga pasukan Mongol dipimpin Hulakhu Khan berhasil meruntuhkan kerajaan Abbasiyah dan menghancur leburkan ibu kota Baghdad. Pasukan Mongol membunuh dua juta muslim, termasuk kalangan ahlul bait yang kelompok Rafidhah mengklaim secara dusta sebagai pecinta dan pembela mereka. Pada tahun ini pula muncul kelompok Nushairiyah Rafidhah di bawah pimpinan Muhammad bin Nuhsair ar-Rafidhi.

907 H: Berdiri kerajaan Shafawiyah Rafidhah di Iran di bawah pimpinan Shah Ismail bin Haidar ash-Shafawi ar-Rafidhi. Ia membunuh satu juta lebih muslim ahlus sunnah di Iran kerana mereka tidak mahu dipaksa memeluk agama Rafidhah. Ketika ia mendatangi Baghdad, ia mencaci maki secara terang-terangan khulafa’ rasyidin, membunuh warga muslim yang tidak mahu memeluk agama Rafidhah, dan membongkar banyak makam ahlus sunnah, di antaranya makam imam Abu Hanifah.

Di antara peristiwa yang menonjol dalam sejarah kerajaan Shafawiyah Rafidhah adalah pemimpinnya, Shah Abbas al-Kabir as-Shafawi memulai program haji ke Mashad Iran sebagai ganti dari berhaji ke Makkah. Pada masa Shafawiyah, muncul Shadruddin ash-Shairazi ar-Rafidhi yang membentuk agama Bahaiyah. Pengikutnya, Mirza Ali Muhammad ash-Shairazi ar-Rafidhi mengklaim bahawa Allah telah bersatu dengan jasadnya. Ia digantikan oleh muridnya, Bahaullah.

Jejaknya ditiru oleh Mirza Ghulam Ahmad di India, seorang boneka Inggeris yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru, menerima kitab suci baru, dan mendirikan agama Qadiyaniyah. Kerajaan Shafawiyah runtuh pada tahun 1149 H.

1218 H: Seorang Rafidhah yang keji datang dari Iraq ke Dir’iyah (pusat pemerintahan kerajaan Arab Saudi waktu itu) dan menampakkan dirinya sebagai ahli ibadah yang hidup zuhud. Seperti halnya Abu Lu’luah al-Majusi yang pura-pura ikut solat untuk membunuh khalifah Umar bin Khatab, orang Rafidhah Iraq ini juga pura-pura ikut solat Asar di masjid Tharif di kota Dir’iyah. Saat raja Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud yang mengimami solat sedang sujud, orang Rafidhah ini mencabut belati yang telah disembunyikan di dalam bajunya dan menusukkannya kepada raja Abdul Aziz. Raja Abdul Aziz meninggal akibat peristiwa itu. Orang Rafidhah ini membunuh raja Abdul Aziz kerana ia dan pasukannya meratakan bangunan makam Husain bin Ali di Karbala ketika menundukkan wilayah tersebut.

1289 H: Iran mencetak dan menerbitkan buku ‘Fashlul Khithab fi Itsbat tahrif Kitab Rabb al-Arbab karya ulama Rafidhah dari Nejef, Iraq bernama haji Mirza Husain bin Muhammad Nuri ath-Thibrisi. Dalam buku tersebut, ia mengumpulkan seluruh pernyataan ulama Rafidhah yang menyatakan Al-Qur’an yang berada di tangan kaum muslimin adalah Al-Qur’an yang telah ditambah dan dikurangi, dan Rafidhah memiliki kitab suci tersendiri yang disebut Mushaf Fatimah, yang menurut pernyataan mereka tidak satu huruf pun dalam Al-Qur’an yang sama dengan isi mushaf Fatimah. Isi (jumlah surat dan ayat) mushaf Fatimah menurut keyakinan mereka tiga kali ganda dari isi Al-Qur’an.

1366 H: Terbit Quran Rafidhah bernama Barjamul Islam, yang menyatakan Karbala’ lebih mulia daripada Makkah. Solat dan tawaf mengelilingi makam Husain di Karbala’ menurut mereka lebih mulia daripada solat di masjidil Haram dan tawaf mengelilingi Ka’bah di Makkah.

1389 H: Pemimpin agama tertinggi Rafidhah Iran, Ayatullah Khameini menerbitkan bukunya Wilayatul Faqih al-Hukumah al-Islamiyah. Di antara kekafirannya dalam bukunya tersebut terdapat pada hal. 35, Khameini menulis: “Sesungguhnya di antara perkara yang pasti dalam mazhab kami adalah keyakinan bahwa para imam kami memiliki kedudukan yang tidak mampu dicapai oleh seorang malaikat yang dekat dengan Allah mahupun seorang nabi yang diutus oleh Allah.”

1399 H: Berdiri Republik Rafidhah Iran dengan pemimpin pertamanya Khameini setelah menggulingkan pemerintahan Shah Pahlevi. Di antara ciri khasnya adalah melakukan demonstrasi dan kerosakan di kota suci Makkah pada musim haji setiap tahun dengan mengatas namakan revolusi Islam.

1400 H: Pada tanggal 15 Sya’ban Khameini menyampaikan khutbah dalam peringatan yang disebut ‘maulid imam al-mahdi’. Di antara isi khutbahnya saat itu adalah perkataannya, “Seluruh nabi datang untuk membina asas-asas keadilan di dunia namun mereka tidak berhasil. Bahkan Nabi SAW penutup para nabi yang datang untuk memperbaiki keadaan manusia dan merealisasikan keadilan, juga tidak berhasil melakukan hal itu pada masa hidupnya…peribadi yang akan berjaya dalam tugas itu dan membina asas-asas keadilan di seluruh penjuru dunia serta meluruskan penyimpangan-penyimpangan adalah imam al-Mahdi al-muntazhar.”

1407 H: Orang-orang Rafidhah yang bergabung ke negara Rafidhah Iran melakukan kekacauan dan kerosakan di kota Makkah pada musim haji. Ribuan orang Rafidhah menyamar sebagai jema’ah haji Iran, melakukan demonstrasi pada hari Jum’at, melakukan penyerbuan, pembunuhan, dan kerosakan di kota suci Makkah. Dalam peristiwa itu, mereka membunuh 402 orang, sebanyak 85 orang korban adalah polis dan warga Saudi. Sisanya adalah jama’ah haji dari berbagai negara. Mereka juga menyerbu, menghancurkan, dan membakar kedai-kedai dan kenderaan-kenderaan beserta orang di dalamnya di Makkah. Tindakan biadab tersebut mencontohi jejak nenek moyang mereka, Qaramithah Rafidhah.

1408 H: Persidangan Islam III yang diadakan oleh Rabithah Alam Islami di Makkah mengeluarkan fatwa kafirnya Ayatullah Khameini.

1409 H: Orang-orang Rafidhah menyamar sebagai jema’ah haji memasukkan bahan letupan secara sembunyi-sembunyi ke wilayah Makkah. Pada petang tanggal 7 Dzulhijah, mereka meletupkan bom di sekitar masjidil Haram. Seorang jema’ah haji dari Pakistan meninggal akibat letupan tersebut, sedangkan 16 jema’ah haji lainnya mengalami luka-luka parah. Siasatan pegawai keamanan Saudi pada tahun 1410 H membuahkan hasil penangkapan, pengadilan, dan pelaksanaan hukuman mati terhadap 16 orang Rafidhah yang terlibat dalam pengeboman tersebut.

1410 H: Pemimpin tertinggi Rafidhah Iran, Ayatullah Khameini meninggal. Rafidhah Iran telah membina di atas makamnya bangunan dan ‘Ka’bah’ yang menyerupai Ka’bah di Makkah. Mereka bertawaf di sekeliling Ka’bah Khameini tersebut.

Abu Daud al-Filasthini

Wallahualam.....

Semoga dapat menambahkan Ilmu Pengetahuan mengenai Sejarah Keji Agama Syi'ah Rafidhah yang sesat...
INSYAALLAH>

02/06/2012

Author : Unknown Time : 10:21:00 am Total Comment : 0

Umar meninggalkan kemewahan ::::




Umar al-Khattab terkenal dengan sifatnya yang zuhud hinggakan kedudukannya sebagai ketua negara langsung tidak menggelapkan matanya dengan kebendaan dan kemewahan.

Jangankan untuk korupsi, mengambil sesuatu yang menjadi haknya sendiri saja, beliau enggan melakukannya. Itulah Khalifah Umar al-Khattab, yang terkenal dengan kezuhudannya. Meskipun beliau berkedudukan... sebagai ketua negara atau Amirul Mukminin, beliau tak pernah terliur dengan gemerlapnya harta benda.

Tatkala Umar menerima utusan dari wakil Semenanjung Arab yang ditaklukinya, dia menyambutnya dengan satu-satunya jubah yang dia ada. Jubah yang dipakainya itu begitu lusuh dan mengandungi 12 tampalan.

Sebagai pengganti kepada Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, mestinya dia berhak untuk mendapatkan gaji yang lebih banyak dari Khalifah Abu Bakar. Tambahan pula, wilayah kekhilafahan Islam waktu itu semakin luas dan membesar, menjadikan tugas dan kewajipannya semakin bertambah, manakala kehidupan rakyat juga semakin makmur. Walau bagaimanapun, Umar memilih untuk menerima gaji yang sama dengan yang diterima oleh Khalifah Abu Bakar.

Orang-orang terdekatnya merasa hiba dan prihatin atas sikap kesederhanaannya itu. Beberapa kali mereka mengusulkan agar Umar menerima gaji sesuai tanggungjawab dan bebanan tugasnya. Namun, usul itu selalu sahaja ditolaknya.

“Mengapa kalian memaksaku untuk menerima gaji yang melebihi keperluanku? Ketahuilah, walaupun Rasulullah SAW diampunkan dosanya yang telah lalu dan yang kemudian, namun beliau tetap memilih hidup sederhana, tetapi tetap bersemangat dalam beribadah. Apalagi aku ini?” Umar berkata dengan penuh keinsafan dan kesedaran atas tanggungjawabnya sebagai hamba kepada Allah dan juga pemimpin kepada umat Islam.

Wallahualam....

Author : Unknown Time : 10:20:00 am Total Comment : 0

Susu kambing kurus :::




Selama tiga hari menyembunyikan diri di Gua Hira’, bekalan makanan dihantar oleh anak Abu Bakar sendiri, iaitu Asma’. Selepas itu, Nabi Muhammad dan Abu Bakar meneruskan perjalanan ke destinasi seterusnya iaitu Yathrib (Madinah).

Perjalanan mereka disertai dua orang rakan lain iaitu Amir bin Fuhairah dan Abdullah bin Uraiqith. Mereka berjalan merentasi padang pasir, gunung...-ganang serta merempuh ribut pasir untuk meneruskan usaha menyebarkan Islam kepada penduduk di sana.

Pada suatu hari, ketika merentasi padang pasir, Nabi Muhammad ternampak sebuah khemah di tengah padang pasir. Mereka mendekatinya dengan niat mahu meminta bantuan atau membeli makanan.

Kedatangan mereka di sambut oleh seorang gembala kambing yang pemurah bernama Ummi Ma’bad,. Wanita ini bersama suaminya, Abu Ma’bad memang sengaja memasang khemah di tengah padang pasir itu untuk membantu para kafilah yang lalu lalang. Selalunya pasangan suami isteri ini akan dibayar sedikit wang oleh para kafilah atas bantuan yang diberi.

Mereka tiba dalam keadaan letih, lapar dan dahaga. Mereka berhasrat untuk membeli daging dan kurma daripada wanita itu. Tetapi ketika itu suami Ummi Ma’bad sudah keluar mengembala kambing di samping mencari pelanggan dari kalangan kafilah yang lalu. Jadi, tiada apa-apa yang boleh Ummi Ma’bad jual kepada tetamunya yang sedang kelaparan itu.

Ketika itu, Ummi Ma’bad tidak mengenali lelaki dihadapannya ialah seorang Nabi, lelaki mulia yang menjadi sebutan seluruh tanah Arab ketika itu. Sangkanya lelaki itu sama seperti lelaki dari kafilah lain yang singgah meminta bantuan. Seketika kemudian, Nabi Muhammad terpandang seekor kambing kurus yang tertambat di tepi khemah.

“Apakah kambing itu mempunyai susu untuk diperah?” Nabi Muhammad bertanya.

“Kambing itu terlalu lemah dan kurus, tuan. Tidak mungkin ia ada susu,” balas Ummi Ma’bad. Dia merasa hampa kerana gagal membantu tetamunya yang dalam kesusahan.

Sebaliknya Nabi membalas, “Tidak mengapa. Tetapi, bolehkah anda benarkan saya memerahnya?”

“Jika tuan fikir ia mempunyai susu, maka perahlah.” Ummi Ma’bad memberi kebenaran.

Nabi Muhammad mendekati kambing itu dan mengusapnya perlahan. Dia berdoa, membaca nama Allah dan mula memerah. Dengan izin Allah, susu kambing keluar dengan banyak. Lalu susu itu diisi ke dalam mangkuk. Kemudian, susu itu diberikan kepada Ummi Ma’bad dan tiga orang sahabatnya yang keletihan.

Selepas tiga orang sahabatnya kenyang, barulah giliran Nabi meminumnya. Kemudian dia memerah semangkuk lagi dan menyerahkan kepada Ummi Ma’bad sebagai bekalan. Sejurus kemudian, rombongan itu mengucapkan terima kasih lalu meneruskan perjalanan ke kota Madinah.

Tidak lama kemudian, suaminya, Abu Ma’bad pulang bersama sekawan kambingnya yang kurus kerana tidak cukup makanan. Selepas melangkah masuk ke dalam khemah, dia terperanjat melihat ada semangkuk susu segar. Dia kehairanan kerana pada pengetahuannya, semua kambingnya kurus kering dan kekurangan makanan. Tidak mungkin kambingnya boleh mngeluarkan susu sesegar itu.

Ummi Ma’bad menceritakan mengenai kedatangan empat orang lelaki Quraisy ke khemah mereka tadi. Dia menyatakan kagumnya dengan lelaki itu. Katanya, lelaki itu punya sepasang tangan yang cukup berkat kerana berjaya memerah susu daripada kambing yang kurus itu.

“Ceritakan bagaimana paras orang itu, Ummi Ma’bad,” pinta Abu Ma’bad.

“Dia seorang yang pembersih. Mempunyai wajah yang bercahaya dan tingkah laku yang sangat baik,” kata Ummi Ma’bad.

Kemudian dia menyambung, “Rupanya sangat cantik. Matanya hitam, bulu keningnya lebat, suaranya garau manakala tengkuknya panjang. Dia mempunyai janggut yang lebat dan betis yang panjang. Kulitnya pula kemerah-merahan serta bercelak.” Dia berhenti berbicara. Abu Ma’bad pula diam mendengarnya.

“Dia sangat tenang jika berdiam diri. Apabila bercakap, dia kelihatan hebat. Jika dilihat dari jauh, dia seorang yang amat cantik dan kelihatan cerah, manis dan bagus. Dia seorang yang terlalu sempurna, serta mempunyai teman-teman yang sayang kepadanya. Jika dia bercakap mereka mendengar dan menurut perintahnya.” Ummi Ma’bad memperincikan sifat lelaki yang ditemuinya.

Abu Ma’bad kagum mendengarnya. “Demi Allah, itulah lelaki Quraisy yang disebut-sebut di Mekah. Aku memang bercita-cita hendak mengikutnya. Jika aku ada peluang, aku akan lakukan!”

Mendengar kata-kata suaminya, Ummi Ma’bad tidak berlengah lagi. Dia menyiapkan barang-barang keperluan lalu berangkat ke Madinah mengikut jejak tetamunya tadi. Di sana, mereka memberikan taat setia dan menjadi pengikut Islam yang sejati.

Sejak itu, nama Ummi Ma’bad atau nama asalnya Atikah binti Khalid al-Khuzaiyah tercatat dalam sejarah Islam kerana bijak dan fasih dalam menerangkan sifat Nabi. Ungkapan yang digunakannya begitu halus, lembut, terperinci dan penuh berperasaan sekaligus membuktikan ketajaman akalnya.

Wallahualam....

Author : Unknown Time : 10:18:00 am Total Comment : 0

Umar dengan kelahiran bayi :::




Seperti malam-malam yang sebelumnya, Umar berjalan keluar dari rumahnya sendirian menyusuri jalanan dan melampaui rumah-rumah yang penghuninya telah lama lena. Dia tidak mahu malam ini berlalu tanpa dia mengetahui bahawa semua penghuni kota berada dalam keadaan baik dan tiada sebarang kejadian buruk berlaku.

Biarpun terasa penat, dia sesekali mendongak melihat lang...it Madinah yang kelihatan indah. Maka dia pun tersenyum seperti terhibur dan memuja pencipta-Nya. Dia berjalan. hingga sampai di luar kota, dan langkahnya terhenti ketika melihat seorang lelaki yang sedang duduk sendirian menghadap sebuah pelita.

“Apakah yang engkau lakukan malam-malam begini sendirian,” tegurnya dengan santun.

Lelaki itu tidak jadi menjawab ketika dia dengar dari dalam bilik suara perempuan yang memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersekat-sekat, lelaki itu memberitahu bahawa isterinya hendak bersalin tetapi dia tidak dapat meminta pertolongan dari jiran mahupun sanak-saudara.

Mendengar hal itu, Umar segera berlari pulang kerumah biarpun dengan keadaan letih kerana baru sahaja mengelilingi Madinah dengan selipar yang telah tipis dan dipenuhi lubang. Segera dia teringat pesanan sahabat-sahabatnya yang mengingatkan agar dia membeli selipar yang baru.

Apa bila tiba dirumah, Umar segera mengejutkan isterinya. “Ummi Kaltsum, bangunlah, ada kebaikan yang boleh kau lakukan malam ini.” Isterinya menurut tanpa sepatah kata, mengekorinya dan segera membelah malam dan tiba dirumah tadi.

Ummi Kaltsum segera masuk dan membantu wanita itu untuk bersalin. Seketika kemudian, terdengar tangis bayi. Lelaki itu bersujud mencium tanah dan kemudian menghampirinya

“Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?” lelaki itu bertanya dalam kehairanan dan kegembiraan.

Umar mahupun Ummi Kaltsum tidak menjawab terus soalan itu. Namun, dia segera tahu kerana Ummi Kaltsum yang memanggil Umar dengan gelaran Amirul Mukminin berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan rumah kerana telah lahir seorang anak lelaki yang gagah.”

Kata-kata ini sekaligus memberitahu siapakah diri Umar yang telah menolongnya.

Wallahualam.....

Author : Unknown Time : 10:15:00 am Total Comment : 0

Istana Umar Al-Khattab ::::




Pada suatu hari, ada seorang Yahudi dari Mesir baru saja tiba di Madinah. Apabila sampai, si Yahudi itu bertanya kepada seorang lelaki, "Dimanakah istana khalifah negeri ini?"

“Lepas Zohor nanti beliau akan ber...ada di tempat istirehatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu,” jawab lelaki yang ditanya.

Si Yahudi itu terbayang keindahan istana khalifah. Sudah tentu bangunan kerajaannya merupakan sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rendang sebagai tempat berteduh khalifah.

Namun, apa yang dilihat tidak seperti apa yang digambarkannya. Dia menjadi bingung dan pelik kerana tempat yang ditunjuk oleh lelaki itu tidak ada walau satu pun bangunan, hatta apa-apa bangunan megah yang mirip istana. Yang terdapat hanyalah sebatang pohon kurma.

Di bawah pohon kurma itu ada seorang lelaki berjubah kusam yang sedang bersandar dan kelihatan seperti tidur-tidur ayam atau mungkin juga sedang berzikir. Si Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki tersebut.

“Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar Al-Khattab," dia menyapa.

“Akulah Umar Al-Khattab,” jawab lelaki itu sambil bangun.

Si Yahudi itu terpinga-pinga. “Yang saya maksudkan ialah Umar, khalifah yang memimpin negeri ini,” katanya dengan tegas.

”Ya, akulah Umar, khalifah yang memimpin negeri ini,” Umar menjawab, juga dengan tegas.

Si Yahudi itu terdiam. Apa yang dilihatnya jauh berbeza jika hendak dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba mewah. Apatah lagi rajanya yang sememangnya hidup dengan kemewahan dan kekekayaan.

Dia sungguh tidak sangka bahawa ada seorang pemimpin yang duduk dengan beralaskan sehelai tikar di bawah pohon kurma dan beratapkan langit dan berada ditengah-tengah rakyat yang hidup dalam kemakmuran dan kebahagiaan.

“Di manakah istana tuan?” tanya si Yahudi itu lagi.

Umar menuding kesatu arah. “Rumahku terletak di sudut jalan itu, bangunan nombor tiga dari yang terakhir.”

“Apakah bangunan yang kecil dan kusam itu rumah tuan?” soal si Yahudi itu lagi.

“Ya! Tetapi itu bukan istanaku, kerana istanaku berada di dalam hati yang tenteram dengan ibadah kepada Allah,” balas Umar dengan penuh yakin.

Si Yahudi itu yang pada asalnya seperti terasa dipermain-mainkan menjadi terharu akan zuhudnya kehidupan Umar.

“Tuan, sejak hari ini saya menjadi yakin akan kebenaran agama Tuan. Izinkan saya menjadi Muslim hingga ke akhir hayat.” Dia kemudian menangis kerana begitu terharu akan keindahan Islam yang Umar tunjukkan.

Wallahualam......

Author : Unknown Time : 10:13:00 am Total Comment : 0

Waktu Khalid Laksana Pedang ::::



Kehandalan Khalid bin Walid dalam bermain pedang begitu hebat sehingga digelar Saifullah (pedang Allah). Pada satu ketika, Khalid memimpin pasukan Islam bertempur sengit di Yarmuk (wilayah perbatasan Syria)... menentang pasukan Rom di bawah pimpinan panglima Gregorius Theodore. Berkat kehebatannya bermain pedang, banyak tentera musuh terbunuh. Lalu terjadilah sebuah peristiwa yang sungguh menarik.

Gregorius ingin mengelakkan lebih banyak kematian para tenteranyan lalu mencabar untuk menentang Khalid secara berdepan. Dalam pertempuran antara mereka, senjata Gregorius patah terkena hayunan pedang Khalid. Gregorius lalu mengambil sebilah pedang besar. Ketika dia merancang untuk berlawan lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang dan kaitannya dengan Islam.

Khalid memberikan jawapan dengan bersungguh dan tegas. Terkesan oleh jawapan Khalid, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Dia belajar Islam sekilas, sempat menunaikan solat dua rakaat, bertempur di samping Khalid dan akhirnya mati syahid di tangan pasukannya lamanya sendiri.

Khalid nyata seorang yang hebat dengan tidak melengahkan walau sedetikpun keinginan seseorang untuk memeluk Islam, hatta di medan perang sekalipun. Dia tahu, jika dia berlengah, sama ada dia ataupun orang itu akan terbunuh di medan perang pada bila-bila masa.

Wallahualam...

01/06/2012

Author : Unknown Time : 11:49:00 am Total Comment : 0

Umar Dengan Seekor Burung


Pada suatu hari, Khalifah Umar menjalankan rutin hariannya dengan berjalan menyusuri kota Madinah bersendirian biarpun waktu itu matahari sedang memancarkan sinarnya dengan terik. Sambil matanya mengawasi kiri dan kanan, dia bersyukur kerana kota ini masih dalam keadaan aman dan damai, sama seperti yang dilaluinya semalam.

Ketika melalui satu halaman rumah seorang penduduk, tiba-tiba ia berhenti. Pandangannya tertuju pada seorang anak kecil sambil mendengar suara lirih cericit burung. Perlahan dia mendatangi anak yang sedang asyik bermain.

“Wahai anak, apakah yang berada di tanganmu itu?” sapa Umar dengan lembut.

Wajah si kecil mendongak, hanya sekilas.

“Tidakkah pakcik lihat, ini adalah seekor burung,” jawabnya ringkas.

Pandangan Umar menjadi redup dan tiba-tiba hatinya merasa hiba melihat burung itu mencericit seolah-olah berada dalam keadaan kesakitan. Di dalam hatinya mengalun sebuah kesedihan, lalu hatinya berbisik, “Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak mengerti jika makhluk kecil ini teraniaya.”

“Bolehkah aku membelinya? Aku sangat ingin memilikinya,” dia bersuara dengan penuh harapan. Si kecil memandang Umar yang tak dikenalnya dengan hairan. Ada riak kesungguhan pada wajah Umar. Akhirnya dengan agak ragu budak itu berkata, “Baiklah,” lalu segera bangun dan menyerahkan burung terebut kepada Umar yang pertama kali dijumpainya.

Tanpa menunggu, Umar segera menyeluk saku jubah lalu menghulurkan beberapa keping wang. Dia membawa burung itu agak jauh dari budak itu sebelum dia melepaskannya dengan gembira sambil berkata, “Dengan nama Allah yang Maha Penyayang, terbanglah wahai burung kecil, terbanglah...terbanglah...”

Burung itu terbang dengan perasaan gembira dan megahnya jauh ke angkasa. Umar menjadi gembira dan merasa amat bahagia. Sayup-sayup kedengaran suara lelaki dewasa, lantas segera dia melangkah pergi. Suara itu berkata kepada anak kecil itu, “Nak, tahukah engkau siapa yang membeli burung itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar nak”
 
Wallahualam....

Author : Unknown Time : 11:18:00 am Total Comment : 0

Mas kahwin Fatimah



Ketika Allah memerintahkan Rasulullah untuk mencarikan suami bagi anaknya, Rasulullah memanggil semua sahabatnya tanpa sebarang diskriminasi.

“Allah memerintahkan aku untuk memberitahu kamu bahawa sesiapa yang mampu membaca seluruh Al-Qur’an pada malam, ini boleh menikahi puteriku, Fatimah, jika dia menerimanya,” kata Rasulullah.

Malam itu, semua sahabat berusaha menyelesaikan seluruh bacaan Qur’an, kecuali Ali bin Abi Talib yang pulang ke rumah untuk tidur. Ketika Bilal mengumandangkan azan subuh, semua orang berkumpul di masjid termasuk Rasulullah saw.

Ketika Nabi menanyakan siapa yang sudah menyelesaikannya, tidak seorangpun menjawabnya, kerana amat susah menamatkan 30 juz dalam waktu 7-8 jam saja. Namun Ali bin Abi Talib berkata, “Ya Rasulullah saw, aku telah menamatkan seluruh Al-Quran semalam.”

Sahabat-sahabat yang lain melihat ke arah Ali dengan hairan. “Bagaimana kamu menyelesaikannya? Bukankah kamu tidur semalaman,” tanya salah seorang dari mereka.

“Tidak, aku memang menyelesaikannya,” Ali menjawab.

“Siapa saksimu, Ali?” soal Rasulullah saw.

“Allah adalah saksiku dan engkau, ya Nabi saw adalah juga saksiku,” Ali menjawab ringkas.

“Aku membaca ‘Laa ilaha ill Allah, Muhammad Rasulullah’ sebanyak 3 kali, Astaghfirullah (70 kali), Surah Al Fatihah (1 kali), Surah Al Ikhlas (3 kali), Surah Al Falaq (1 kali), Surah An Naas (1 kali), Laa ilaha ill Allah (10 kali), dan Selawat Nabi ‘Allahumma solli alaa Muhammadin wa alaa ali muhamaddin wa salim’ sebanyak 10 kali,” Ali menyambung.

“Sebagaimana Allah memberi kesaksian, aku juga memberi kesaksian bahwa Ali telah menyelesaikan seluruh bacaan Qur’an. Jika kamu membaca seperti apa yang dibaca oleh Ali, sama seperti dia membaca 30 juzuk Al Qur’an,” kata Rasulullah saw.

“Fatimah, apakah engkau menerima Ali sebagai suamimu?” Rasulullah saw. bertanya pada puterinya.

“Dengan satu syarat,” Fatimah menjawab.

Semua sahabat mulai memandang pada Ali, Fatimah dan kemudian kepada Nabi. Ketika Nabi saw berfikir mengapa Fatimah mengajukan syarat itu, malaikat Jibril turun dan berkata pada beliau, “Wahai Nabi, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, Allah Yang mengatakan padamu untuk menanyakan syarat apa yang ingin dia ajukan.”

“Apa syaratmu, Fatimah ?” tanya Rasulullah saw.

“Syarat itu bukan untuk Ali, tapi dari diriku sendiri. Jika ini dipenuhi, maka aku menerimanya. Jika tidak, aku menolak untuk menikah dengan Ali” jawab Fatimah.

Kemudian Jibril mengingatkan Rasulullah saw. akan pesan Allah untuk menanyakan apa syarat yang diinginkannya.

“Sekarang dengarkan apa yang Allah letakkan pada hati Fatimah, sebagai manfaat dan darjat para wanita dalam kerohanian, ” kata Jibril

“Apa syaratmu, Fatimah?” sekali lagi Nabi bertanya

“Aku selalu mendengarmu berdoa bagi umatmu siang dan malam. Engkau mengatakan Ya Allah, izinkan aku memimpin umatku untuk-Mu! Ampuni mereka ! Sucikan mereka! Angkatlah semua dosa-dosa, kesulitan dan beban-beban mereka!” jawab Fatimah,

“Aku mendengarmu ya Rasulullah, dan melihat bagaimana engkau menderita demi umatmu. Dari apa yang engkau tuturkan, aku tahu bahwa ketika wafat, dalam kubur, dan kiamat nanti engkau akan selalu menyebut, Umatku..Umatku ! Pada Allah. sebagaimana cintamu pada umatmu seperti itu juga yang ada dalam hatiku. Aku ingin seluruh umatmu sebagai mas kahwinku. Jika engkau menerimanya, aku bersedia menikah dengan Ali,” sambung Fatimah sebagai menyatakan keinginannya.

Apa yang diminta oleh Fatimah adalah seluruh umat Nabi, semua tanpa terkecuali sebagai mas kahwinnya. Oleh itu kerana ia tidak terletak ditangannya, Rasulullah perlu menunggu kedatangan Malaikat Jibril yang lama tidak juga menampakkan dirinya.

“Allah menyampaikan Assalamu'alaikum kepadamu dan menerima permintaan Fatimah. Allah swt menganugerahan apa yang dimintanya sebagai mas kahwin untuk bernikah dengan Ali,” kata Jibril ketika dia datang.

Segera Nabi berdiri dan mengerjakan solat 2 rakaat sebagai rasa syukur pada Allah swt. Fatimah ternyata mementingkan pengorbanannya bagi umat Nabi saw. Tidak seorang umat pun yang akan berada diluar mas kahwin Fatimah, kerana jika Allah menarik satu umat dari mas kahwin itu, maka pernikahannya dengan Ali dianggap tidak sah. 
 
Wallahualam

Author : Unknown Time : 11:02:00 am Total Comment : 0

Kisah Pengantin Sederhana – Fatimah dan Ali :::



 
 
Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Talib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya tentang persiapan yang dikatakan oleh Rasulullah untuk puteri kesayangannya itu. Kemudian, mereka mendapati bahawa persiapan tersebut hanyalah alat penggiling gandum, kulit binatang yang disamak, kendi dan sebuah piring.

Apabila Abu Bakar mengetahui hal itu, dia menangis.“Wahai Rasulullah, apakah ini sahaja persiapan untuk Fatimah?” soalnya.

Nabi Muhammad pun menenangkannya lalu menjawab dengan lembut. “Wahai Abu Bakar, ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”

Fatimah yang menjadi pengantin pada hari itu, kemudian keluar daripada rumahnya dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tetapi dengan 12 kesan tampalan pada pakaiannya.Tiada langsung solekan, apatah lagi perhiasan yang mahal.

Setelah Fatimah dan Ali dinikahkan, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Al-Quran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

Bagi Rasulullah, membuat majlis yang besar untuk pernikahan puterinya bukanlah satu masalah. Namun baginda, sebagai seorang yang menjadi model bagi umat manusia, “kemegahan” akan majlis pernikahan puterinya bukan ditunjukkan melalui sesuatu yang bersifat duniawi. Rasullullah cuma menunjukkan bahawa kemegahan melalui kesederhanaan dan sifat qanaah itu adalah kekayaan hakiki.

Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tercermin dalam sifat qanaah”.

Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tidak boleh dipisahkan. Seseorang beriman, terserlah dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu terhasil dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia.

Rasulullah bersabda, “Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan satu simpanan yang tak akan lenyap.”

Wallahualam.....

19/05/2012

Author : Unknown Time : 5:12:00 pm Total Comment : 0

Elakkan Meniup Makanan Panas

Assalamualaikum.. :D.. 
Semoga semua sahabat Admin dalam keadaan yang baik.. persekitaran yang baik.. pemakanan yang baik.. dan pemikiran yang baik.. Insya-Allah.. doa Admin untuk semua.. amiiinnn..


17/05/2012

Author : Unknown Time : 6:20:00 pm Total Comment : 0

Omar Al-Mukhtar: Singa Padang Pasir ::::...

 
Omar Al-Mukhtar: Singa Padang Pasir ::::...

“Hidup biar mulia, mati biar syahid. ‘Isy ‘azizan aumut syahidan!”

Lelaki bertubuh sasa, tegap dan gagah perkasa yang telah ditelan usia itu melangkah longlai tenang menuju ke tiang gantung. Kedua belah tangannya terbelenggu di belakang. Namun matanya masih tetap bersinar menaruh keyakinan terhadap masa depan negara dan rakyatnya. Raut mukanya tidak me...nampakkan rasa gentar atau takut menghadapi suasana kematian. Ia begitu gagah walaupun maut sedang menantinya tidak beberapa saat lagi. Ia tersenyum mengimbau kembali peristiwa-peristiwa yang ia lalui sehingga ia ditangkap dan dihukum di tali gantung.

Pengorbanannya terhadap negaranya yang tercinta. Ia berpuas hati apa yang beliau telah lakukan selama ini. Ia redha jalan yang dipilihnya sendiri. Sebentar tadi ketika beliau dibenarkan bersolat Subuh, beliau sujud begitu lama sehingga darah yang menyelinap ke seluruh anggotanya terasa kebas-kebas mengadu dan berdoa ke hadhrat Allah s.w.t. supaya Allah mengampuni segala dosa-dosanya selama ini dan memohon kepadaNya supaya negara dan rakyat bebas dari belenggu penjajahan. Beliau telah bersedia menemui Penciptanya sekarang.

Suasana hening di pagi yang sejuk menikam qalbu, kedengaran tangis-sedu menyelubungi orang-orang yang berada di sekelilingnya. Mereka menatap lelaki berusia 80 tahun itu dengan wajah muram. Air mata masing-masing tidak dapat ditahan, luruh bagaikan mutiara berguguran. Bagi mereka yang berada di sekitar kawasan penjara dan di tempat-tempat lain, turut merasainya, semua mereka sedar bahawa sudah sampai ketika dan waktunya beliau akan menjalani hukuman gantung sampai mati pada pagi itu. Beritanya tersebar ke seluruh pelusuk negara. Masing-masing mengangkat tangan menadah ke langit memohon keampunan dari Allah Maha Besar dan memberi darjat yang tinggi kepada beliau dan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang solehin dan para-anbiya.

Tidak beberapa saat berlalu, suasana pagi yang hening kesejukan pagi itu dipecahkan dengan jerit pekik tangis bersahut-sahutan ketika mereka melihat lingkaran tali tiang gantung menjerut leher pahlawan mereka, Omar Al-Mukhtar. Singa Padang Pasir itu telah kembali kepada Penciptanya pada 16 September 1931 di Kota Solouq. Selesai sudah perjuangannya melawan penjajahan Itali, tetapi perjuangannya itu akan tetap diteruskan oleh anak watan.

Omar Al-Mukhtar memang dipandang sebagai simbol kepahlawanan menentang penjajahan Itali bagi rakyat Libya. Sejak Itali mulai mencengkam di negara tersebut pada Oktober 1911. Ia telah menjadi perintis mencetuskan semangat rakyat Libya menyalakan bara perjuangan rakyat menentang penjajahan Itali.

Syahid di Tiang Gantung

Gelora perjuangannya juga menambat hati rakyat Libya lainnya dan berjaya melahirkan ramai para mujahid seperti Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni dan Silima An-Nailiah.

Usaha Itali menguasai Libya dilakukan dengan menyerang dan menguasai kota-kota di sebelah pantai seperti Tripoli, Benghazi, Misrata dan Derna secara berturut-turut, satu demi satu jatuh ke tangan penjajah Itali. Meski pun demikian, Omar kerap kali menjadi batu halangan kepada mereka. Ia mampu membangkitkan semangat perjuangan rakyat Libya menentang Itali dengan semangat perjuangan yang kental.

Perjuangan mereka telah menciptakan beberapa pertempuran yang hebat. Misalnya pertempuran yang terjadi di Al-Hani dekat Tripoli pada 23 Oktober 1911, Ar-Rmaila dekat Misrata, Al-Fwaihat dekat Benghazi pada Mac 1912 dan Wadi Ash-Shwaer dekat Derna.

Perjuangan rakyat Libya menghasilkan kejayaan yang cemerlang-gemilang. Pejuang-pejuang pimpinan Omar pernah terlibat dalam pertempuran besar di Al-Gherthabiya, dekat Sirt pada bulan April 1915. Itali kehilangan ribuan tentera. Pertempuran-pertempuran seperti ini sering berlaku membuatkan penjajah Itali terpaksa membalas serangan yang memakan masa yang panjang, tahun demi tahun untuk menguasai negara ini.

Meski pun begitu pada akhirnya, wilayah-wilayah yang dipertahankan oleh para mujahidin jatuh ke tangan penjajah. Jatuhnya wilayah demi wilayah membuat para pejuang meninggalkan rumahnya dan menuju ke pegunungan. Mereka tidak pernah berdiam diri terus merancang pelbagai strategi menyerang balas.

Pada tahun 1922 Omar telah membentuk satu kumpulan para mujahidin dan menggegarkan kembali operasi perjuangan menentang penjajahan Itali ke atas negaranya. Ia mengumpulkan kembali mujahidin di The Green Mountain (Aj-Jabal Al-Akdar), bahagian Tenggara Libya. Perkara ini terjadi setelah tamatnya Perang Dunia pertama dan pada masa itu penjajah Itali terfikir bahawa mereka mampu untuk membenamkan sepenuhnya perjuangan rakyat Libya. Jangkaan Itali ternyata silap.

Perjuangan yang tercetus kembali itu membuat pihak berkuasa Itali merasakan mereka berada dalam suasana yang amat tertekan, bahaya tiba-tiba datang sering mengancam keselamatan. Mereka tidak mahu membiarkan perjuangan menuntut kebebasan ini semakin merebak. Lalu pemerintah Pusat Itali, Badolio yang terkenal dengan kekejamannya yang sering kehausan darah rakyat Libya untuk diratahnya telah mengambil tindakan ketenteraan untuk merendam bara perjuangan tersebut.

Badolio bukan sahaja ditugas untuk menumpaskan Omar Al-Mukhtar dan pasukannya. Bahkan ia juga diberikan keizinan untuk membunuh rakyat Libya yang memberi sokongan dan membantu para mujahidin di mana jua mereka berada.

Tidak beberapa lama kemudian diktator Musolini mengirimkan komandan yang berperilaku lebih zalim daripada Badolio. Ia mengambil alih tugas Badolio dan membentuk pasukan tugas khas untuk menumpaskan gerakan yang diketuai oleh Omar dan bertindak membunuh lebih ramai rakyat Libya yang tidak berdosa. Komandan yang dihantar oleh Musolini ini pada fikirannya boleh menyelesaikan masalah Libya secara langsung adalah Rodolfo Grasiani. Malah kabinet Musolini telah dimaklumkan bahawa kedatangan khas Grasiani akan membuat suasana di Libya dapat dikawal sepenuhnya.

“Jika tidak bersamaku, maka mereka adalah lawanku”

Grasiani bersetuju pergi ke Libya dengan syarat tidak ada peraturan yang dapat menghalangnya dari melakukan berbagai tindakan ke atas Libya termasuk peraturan –peraturan antarabangsa. Ia boleh melakukannya tanpa halangan dan sekatan mengikut kehendak hatinya bagi kepentingan Itali. Sebelum ditugaskan ke Libya, ia pergi ke Morj, Switzerland untuk merancang serangan terhadap Libya.

Rancangan Grasiani dipersetujui sepenuhnya oleh Musolini sebab ia berpegang kepada prinsip ”jika tidak bersamaku, maka mereka adalah lawanku”. Dengan demikian untuk menguasai Libya pelbagai kaedah dan cara dihalalkan, tidak lagi mempedulikan sebanyak mana kos yang terlibat dan berapa banyak mangsa yang tidak berdosa terpaksa dikorbankan.

Tindakan pertama Grasiani di Libya ialah memutus, menyekat dan mencegah segala bentuk hubungan dengan mujahidin dan dengan Negara-negara jiran yang memberi bantuan membekalkan senjata dan juga maklumat kepada para pejuang Libya. Ia membina kawat berduri sepanjang 300 km, tinggi 2 meter dan lebar 3 meter dari pelabuhan Bardiyat Slaiman Libya Utara sampai Al-Jagboub Libya Tenggara.

Beliau juga membina kem berpusat yang dikawal rapi di mana ribuan rakyat Libya mesti hidup dalam pengawasan tentera Itali. Ia membina banyak kem-kem seumpama ini di Al-Aghaila, Al-Maghroun, Solouq, dan Al-Abiyar. Keseluruhan rakyat Libya merasa tertekan dan tertindas akibat perbuatan Grasiani ini. Mereka hidup seperti haiwan di kandang tidak ada kebebasan.

Pada akhir bulan November 1929 sebahagian besar rakyat Libya dipaksa hidup di kem-kem di Al-Jabal Al-Akdar, Mortaf-Aat Al-Thahir dari Beneena Utara sampai Ash-Shlaithemiya Selatan, dari Tawkera ke bahagian selatan padang pasir Balt Abdel-Hafeeth.

Kehidupan rakyat Libya di kem-kem ini sangat mengerikan. Ribuan rakyat Libya mati kelaparan, banyak juga yang mati kerana ditembak atau digantung sebab disyaki membantu perjuangan para mujahidin pimpinan Omar Al-Mukhtar.

Pada tahun 1933, Ketua Jabatan Kesihatan Angkatan Tentera Darat Itali, Dr Todesky menulis dalam bukunya bertajuk ‘Cerinaica Today’. Dalam bukunya itu ia menyebutkan bahawa dari bulan Mei hingga bulan September 1930, lebih daripada 80 ribu rakyat Libya dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya dan hidup di kem-kem ini.

Setiap kumpulan rakyat Libya yang berjumlah 300 orang sekali jalan mendapat kawalan ketat dari tentera Itali. Todesky berkata bahawa pada akhir tahun 1930 semua rakyat Libya dipaksa untuk hidup di kem-kem ini. Sebanyak 55 peratus dari 80 ribu rakyat Libya meninggal di kem-kem tersebut.

Seorang sejarawan Libya, Mahmoud Ali At-Taeb menyatakan bahawa pada bulan November 1930 paling tidak terdapat 17 acara pengebumian dalam sehari terjadi di kem-kem tersebut akibat kelaparan, penyakit dan tekanan mental yang maha hebat yang tidak tertanggung oleh manusia normal.

Di luar kem-kem ini, mujahidin yang bertahan di daerah pergunungan terus berjuang menentang penjajahan Itali. Namun, pada tahun 1931 mujahidin kehabisan stok makanan dan bekalan perubatan. Pemimpin mujahidin, Omar Al-Mukhtar, jatuh sakit dan banyak para mujahidin memintanya untuk berhenti berjuang dan meninggalkan Libya dan berselindung di Negara jiran yang bersimpati dengan perjuangan mereka buat sementara waktu sehingga kesihatannya pulih seperti sedia kala dan kembali menyusun perjuangan seterusnya. Namun, beliau menolak tawaran tersebut dan tetap meneruskan perjuangan menentang tentera Itali.

Atas kegigihan dan keberanian melawan penjajahan Itali, maka beliau digelar sebagai ‘Singa Padang Pasir’. Meski pun pada akhirnya, usia senja tidak mampu membuatnya bertahan untuk memikul senjata meneruskan perjuangan. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Pendakwaan dan hukuman tetap dilakukan tanpa mempedulikan Undang-undang antarabangsa seperti mana yang ditetapkan dalam ‘Perjanjian Geneva’ dalam soal mempertimbangkan tahap kesihatan Omar Al-Mukhtar dan usianya yang sudah lanjut membolehkan beliau dikecualikan dari hukum tali gantung.

Semakin redupnya bara kepahlawanan memberi peluang kepada Itali meneruskan cita-citanya dan akhirnya Itali dapat menguasai Libya setelah melakukan pertempuran selama 20 tahun. Itali hanya mampu berkuasa di Libya sehingga tahun 1943 sahaja akibat kekalahannya di Perang Dunia Kedua. Libya kemudian berada di bawah kekuasaan pasukan sekutu hingga 24 Disember 1951. Itali memerdekakan Libya pada 21 Disember 1951. Libya di bawah pentadbiran Kolonel Muammar Abu Minyar al-Qadhafi yang merampas kuasa pada 1 September 1969 dan membentuk sebuah negara kombinasi di antara sosialis dan Islam. Libya terasing daripada dunia luar akibat sekatan oleh PBB yang mana Amerika Syarikat menjadi dalangnya ekoran peristiwa Lockerbie dan pada bulan September 2003 sekatan ekonomi terhadap Libya dilonggarkan kerana Muammar Al-Qadhafi memberi kerjasama dalam kes Lockerbie.

Mana Dia Omar Al-Mukhtar Abad ke-21?

Begitulah serba ringkas kisah Omar Al-Mukhtar yang berjuang ke titisan darah terakhir. Kisah beliau ini telah difilemkan. Sejarah menuntut kemerdekaan ini sering bertukar tidak pernah padam selagi ada bumi dan matahari, hanya yang bertukar ialah penjajahan dalam bentuk baru iaitu penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan sebagainya dan menjadikan pemimpin tempatan sebagai boneka kepada tuannya. Ini berlaku di Iraq, di Afghanistan, di Khasmir, di Chechnya dan lain-lain Negara umat Islam yang terpaksa tunduk dengan negara kuffar iaitu Amerika Syarikat yang menjadi negara kuasa besar tunggal atau polis dunia tanpa saingan selepas kehancuran Soviet Union pada tahun 80an. Maka tamatlah perang dingin yang menjadi pengimbang di antara dua kuasa besar yang berjaya mempengaruhi politik dan ekonomi dunia ketika itu. Ada lagikah kepahlawanan seperti yang ditunjukkan oleh Omar Al-Mukhtar ini di negara umat Islam sekarang ini!

Wallahualam.....



Author : Unknown Time : 6:14:00 pm Total Comment : 0

Pahit Manis Islam di Bosnia-Herzegovina

Masjid Malaysia, Bosnia
“Masjid Malaysia di Ibu Kota Sarajevo, Bosnia – Herzegovina”
Alhamdulillah, pada tahun yang lepas saya dipertemukan dengan seorang sahabat dari Sarajevo, Bosnia-Herzegovina yang bertugas sebagai pemandu pelancong di segenap kota Eropah dan kini berkhidmat di Rotterdam, Belanda. Saudara Muharem Mulasmajic itulah nama insan yang tenang ketika berbicara dan dari sinar matanya nyata sudah pelbagai pengalaman pahit manis yang ditempuhinya. Mahir berbahasa dalam 10 bahasa termasuk bahasa Bosnia/ Croatia/ Serbia, Arab, Inggeris, Belanda, Jerman, Sepanyol, Perancis, Itali, Parsi dan Turki (dan menyebut insya Allah Bahasa Melayu akan menjadi bahasa ke-11 dimahirinya) membuatkan saya kagum pada kebolehan beliau tersebut.

Sepanjang pengenalan ringkas, kami sempat berbincang secara agak terperinci tentang perjalanan panjang sejarah kedatangan Islam ke Bosnia, selain hala tuju negara Bosnia-Herzegovina yang merdeka kini. Selain itu, beliau turut mengisahkan sejarah sebuah negara Yugoslavia yang terdiri daripada 6 wilayah iaitu Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Croatia, Slovenia dan Macedonia, namun akhirnya tercatat di lipatan sejarah terlibat dalam memori duka Perang Bosnia-Serbia-Croatia yang akhirnya memecahkan Yugoslavia kepada beberapa negara tersendiri. Beliau juga meminta didoakan agar Kosovo yang kini masih di bawah cengkaman Serbia juga akan beroleh kemerdekaan. Sama-sama kita doakan kemajuan dan kebangkitan ummah. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Yugoslavia_Peta.jpg 
“Yugoslavia Sekitar Tahun 1990. 1: Slovenia; 2: Croatia; 3: Bosnia-Herzegovina; 4: Serbia; 4a: Vojvodina; 4b: Kosovo; 5: Montenegro; 6: Republik Yugoslavia Macedonia; A: Lautan Adriatik”

Beliau turut menceritakan dan masih segar di dalam ingatannya bagaimana perang tersebut bermula apabila tentera Serbia melancarkan peluru-peluru berpandu ke masjid-masjid ketika Muslimin Bosnia tengah menunaikan solat ‘Eidul Adha pada tahun 1991. Seperkara yang menarik dan suka untuk saya kongsikan dengan tetamu ziarah yang budiman sekalian ialah betapa Saudara Muharem Mulasmajic amat menyanjungi peranan Malaysia ketika berlaku kekejaman pembersihan etnik dan perang disebabkan perbezaan fahaman politik antara negara serumpun ini  pada tahun 1991-1996. Malah katanya, nama Malaysia sangat harum di dalam hati rakyat Bosnia khususnya mereka yang berada di Sarajevo. Sepanjang perbualan saya dengan beliau, lebih daripada 3 kali Saudara Muharem menyebut dan menyanjung tinggi (Tun) Dr. Mahathir Mohamad yang lantang bersuara dalam menyuarakan kenyataan membantah keras perang dan pembersihan etnik di Bosnia pada awal tahun 90-an dahulu. Lebih daripada itu, di Sarajevo juga ada sebuah masjid yang dinamakan Masjid Malaysia yang mana menurut Saudara Muharem dibiayai sepenuhnya pembinaannya oleh Kerajaan Malaysia.

Mengenai memori saya dan Bosnia pula, saya tentunya masih ingat isu tentang perang saudara ini ketika saya berada di antara Tahun 6 sehinggalah ke Tingkatan 3 yakni tempoh masa ketika perang ini tengah berkecamuk. Apa yang saya ingat-ingat lupa kalau tidak silap pada ketika itu ada diadakan kutipan RM1 seorang dari seluruh rakyat Malaysia oleh Barisan Bertindak Bosnia untuk membantu saudara seaqidah di Bosnia dalam menghadapi penganiyaan dan ujian dahsyat tersebut. Apa yang pasti dan saya sangat-sangat ingat sehingga ke hari ini ialah apabila di kaca televisyen ditunjukkan anak-anak Bosnia yang datang ke Malaysia dalam program anak angkat yang dilancarkan oleh Kerajaan Malaysia. Cuma yang mencuit hatinya ialah sebab utama saya ingat perkara ini bukan kerana perang tersebut, tetapi kerana saya teruja melihat di televisyen betapa cantik dan comelnya anak-anak Bosnia ini.:-)

Berbalik kepada pertemuan saya dengan Saudara Muharem Mulasmajic. Sebenarnya beliau juga ada mengajak saya untuk ke Bosnia pada 11 Oktober ini dan bersama-sama beliau menyambut ‘Eidul Fitri di Sarajevo. Hati ini sesungguhnya dan sememangnya melonjak gembira dan teringin amat untuk ke sana, namun apakan daya tiket pulang ke Malaysia telah dijadualkan pada 7 Oktober ini. Lebih-lebih lagi beraya bersama keluarga di kampung juga menggamit jiwa untuk segera pulang ke Malaysia! Apapun, saya menanam tekad insya Allah suatu hari nanti saya akan menjejakkan kaki ke bumi Sarajevo, Bosnia-Herzegovina. Mudah-mudahan menjadi kenyataan. Amiin.

Central Europe Map
“Peta Central Europe (Eropah Tengah) Kini”

Saudara Muharem juga menceritakan kepada saya serba sedikit tentang kedatangan Islam ke Bosnia. Secara ringkas, menurut beliau Bosnia bolehlah dikatakan sebagai “daughter of Turkey”. Ini kerana menurut sejarahnya, Islam datang ke Bosnia-Herzegovina dengan dibawa dan disebarkan oleh pasukan Turki ketika Kerajaan Uthmaniyyah menduduki negara tersebut pada tahun 1463M bersamaan dengan tahun 867 Hijrah. Agama yang suci ini kemudiannya berkembang selama 400 tahun pemerintahan Kerajaan Turki Uthmaniyyah di Bosnia. Menurut Wikipedia, orang Bosniak moden yang ada kini berketurunan daripada mualaf Bosnia abad ke-15 dan ke-16 yang hidup di Kemaharajaan Bosnia (mereka memanggil diri sebagai “Dobri Bošnjani” yang bermaksud “Bosnia Baik” dalam bahasa lama Bosnia) dan secara umumya  orang Bosniak merupakan penganut Muslim Sunnah Waljamaah walaupun pada sejarah, Tasawwuf telah memainkan peranan penting di negara itu. 

Saya amat tertarik dan adalah sesuatu yang wajar diteladani apabila Saudara Muharem menyatakan bahawa hikmah terbesar daripada peristiwa berdarah Perang Bosnia-Serbia-Croatia 1991-1996  ialah umat Islam lebih mempunyai semangat jatidiri Islami (Islamic esteem) selepas perang tersebut. Lebih daripada itu katanya, dengan mempunyai kerajaan sendiri kini yang ditadbir sepenuhnya oleh umat Islam, agenda Islam lebih mudah untuk dilaksanakan. Lebih membahagiakan, semangat orang Bosnia untuk kembali menghayati agama kembali membara selepas perang dengan tumbuhnya madrasah-madrasah pengajian Islam dan masjid-masjid kian diimarahkan. Malah Saudara Muharem sendiri belajar di madrasah dan amat fasih berbahasa ‘Arab dan saya menyaksikan sendiri bagaimana lancarnya bahasa ‘Arab beliau apabila berbual dengan 2 orang sahabat saya dari Oman iaitu Saudara Soud Al-Ghaitsi dan Saudara Khalil Al-Hanashi. Selain itu, beliau seorang yang sangat berpegang dengan aliran Salaf sehinggakan apabila saya ingin mengabadikan gambar bersama beliau, beliau memohon maaf dan menyatakan pendiriannya bahawa mengambil gambar adalah terlarang kecuali untuk tujuan yang sangat perlu atau tujuan keselamatan dan pentadbiran sahaja. Saya maklum, memahami dan menghormati pendirian beliau, meskipun dalam hal bergambar foto ini saya mengambil pendekatan yang lebih sederhana.  Wallahu a’lam bissawab.



“Masjid Tsar – Masjid Tertua Di Sarajevo , Dibina Pada Zaman Uthmaniyyah”

Alhamdulillah, pada sebelah petangnya, kami juga sempat iftar (berbuka puasa) bersama dan mengajak sekali seorang lagi kenalan iaitu Sean Patrick Former (tidak mempunyai agama tetapi percaya adanya Tuhan) dari California, Amerika Syarikat ke Majlis Berbuka Puasa percuma dan terbuka kepada semua orang awam sempena ‘Islamen Dialoog’ anjuran masyarakat Islam Turki di tengah kota The Hague. Tahniah kepada penganjur ’Islamen Dialoog’ kerana saya yakin ini adalah satu gerak dakwah yang wajar kita contohi dalam menyebarkan syiar Islam. Alhamdulillah, ramai juga orang Belanda yang hadir sama dalam program iftar perdana tersebut. Mudah-mudahan mereka beroleh hidayah iman. Amiin.

Segala puji selamanya milik Allah Ta’ala di atas jalinan persaudaraan seaqidah yang dinikmati. Pertemuan singkat tetapi amat bermakna saya dengan Saudara Muharem Mulasmajic pada hari tersebut berakhir dengan kami sama-sama menunaikan solat tarawikh di Masjid As-Sunnah di Wouwermanstraat.

DOA PERPISAHAN

Pertemuan Kita Di Suatu Hari
Menitiskan Ukhwah Yang Sejati
Bersyukurku Ke Hadrat Ilahi Di Atas Jalinan Yang Suci

Namun Kini Perpisahan Yang Terjadi
Dugaan Yang Menimpa Diri
Bersabarlah Di Atas Suratan
Ku Tetap Pergi Jua

Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku
Dalam Doa Kudusku Sepanjang Waktu
Ya Allah Bantulah Hamba Mu

Mencari Hidayah Daripada Mu
Dalam Mendidikkan Kesabaranku
Ya Allah Tabahkan Hati Hamba Mu
Di Atas Perpisahan Ini

“Teman Betapa Pilunya Hati Menghadapi Perpisahan Ini.
Pahit Manis Perjuangan Telah Kita Rasa Bersama. Semoga
Allah Meredhai Persahabatan Dan Perpisahan Ini. Teruskan
Perjuangan”


Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku
Dalam Doa Kudusku Sepanjang Waktu
Ya Allah Bantulah HambaMu

Senyuman Yang Tersirat Di Bibirmu
Menjadi Ingatan Setiap Waktu
Tanda Kemesraan Bersimpul Padu
Kenangku Di Dalam Doamu

Semoga Tuhan Berkatimu!
 
Buat Saudara Muharem Mulasmajic yang mulia… Alhamdulillah, ukhuwwah fillah yang terbina dirasakan sangat indah.. Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi di Bosnia-Herzegovina, Malaysia atau mana-mana pelusuk dunia ini. Insya Allah sekiranya tidak bertemu lagi di dunia ini, mudah-mudahan kita akan bertemu di SyurgaNya nanti. Amiin Ya Rabb!

Wallahu a’lam...

11/05/2012

Author : Unknown Time : 2:24:00 pm Total Comment : 0

Umar al-khattab yang berjiwa rakyat

Pada akhir abad ke-17 Hijrah, kaum Muslimin sedang menikmati kemenangan pasukan mereka dalam peperangan di Iraq dan Syam. Namun di tengah kegembiraan itu, mereka diuji dengan musim kemarau berpanjangan. Selama sembilan bulan hujan tidak turun, bumi gersang dan penuh debu, manakala haiwan dan tanaman menjadi korban.

Namun, keadaan Madinah tidak terlalu buruk kerana di bawah pemerintahan Umar Al-Khattab kerana penduduk Madinah dibiasakan untuk menyimpan makanan. Kesannya, masyarakat dari kawasan yang lain datang memenuhi Madinah bagi mendapatkan sumber makanan. Keadaan ini menyebabkan Madinah turut menghadapi kekurangan bahan makanan.

Ketika keadaan ini mencapai kemuncaknya, Umar pernah diberikan roti yang dicampur mentega. Umar memanggil seorang Badwi dan mengajaknya makan bersama. Dia tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum Badwi itu melakukannya lebih dahulu. Orang Badwi itu benar-benar menikmati roti tersebut.

“Agaknya, kau tidak pernah memakan mentega?” tanya Umar.

“Ya,” jawab Badwi itu.

“Saya tidak pernah makan dengan mentega atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan sesiapa memakannya sampai sekarang,” tambahnya.

Mendengar kata-kata Badwi itu, Umar bersumpah untuk tidak memakan mentega hinggalah semua orang hidup seperti sediakala. Kata-kata ini benar-benar dibuktikan dan di abadikan sampai saat ini.

“Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin menjadi orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya,” ujar Umar. Walhal, Umar pada masa itu boleh menggunakan apa sahaja kemudahan negara yanga ada. Tambahan pula, kekayaan Iraq dan Syam sudah berada di tangan kaum Muslimin. Namun, Umar memilih untuk bersama-sama rakyatnya. Begitulah hebatnya peribadi Umar sebagai seorang pemimpin ummah.
 
Wallahualam.....

Author : Unknown Time : 1:19:00 pm Total Comment : 0

Pembantu yang doanya dikabulkan


Bumi Basrah sudah lama tidak dilimpahi hujan. Pancaran matahari semakin terik, manakala angin padang pasir berhembus kering. Musim kemarau kali ini memang begitu menduga para penduduk. Mereka mula merasa sukar mendapatkan bekalan air. Binatang peliharaan pula kelihatan kurus kering.

Pada hari itu penduduk Basrah bersepakat untuk mengadakan solat Istisqa’ bagi memohon hujan. Solat itu dihadiri oleh para ulama Basrah dan tokoh masyarakatnya dan dipimpin oleh salah seorang ulama pilihan di antara mereka. Antara para ulama yang hadir ialah Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh Al-Murri.

Dengan kehadiran para alim ulama terkemuka ini, solat Istisqa’ ini dianggap sesuatu yang istimewa. Pada fikiran penduduk, pasti Allah mengkabulkan permintaan mereka. Mereka menjadi insaf akan dugaan ini kerana pada pendapat mereka, ini adalah balasan atas dosa yang mereka lakukan lalu Allah menahan hujan dari turun. Mereka datang dengan hanya satu harapan, agar hujan kembali turun.

Setelah selesai solat dua rakaat, Imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya, mengakui segala kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Allah. Mereka amat berharap agar hujan.

Selesai solat, para penduduk pulang kerumah masing-masing. Hari terus berlalu namun tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tidak kunjung datang, langit masih kelihatan cerah manakala matahari semakin terasa terik. Para ulama tertanya dalam hati mengapa hujan tidak juga turun, walhal mereka sama-sama mengerjakan solat bersama penduduk Basrah.

Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan solat Istisqa’ kali kedua dan berharap agar Allah mengabulkan doa mereka. Selesai solat yang kedua, keadaanya masih sama. Belum ada tanda-tanda doa mereka dikabulkan. Langit masih cerah dengan terik matahari. Para ulama semakin tertanya tanya.

Solat ketiga pun segera menyusul. Harapan besar mereka agar Allah kabulkan permintaan kali ini. Walau bagaimanapun, hujan masih tidak turun. Tanda tanya di hati para ulama Basrah kian membesar. Seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu bila agaknya musim kering itu berlalu.

Selepas solat yang ketiga, Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani tidak terus pulang dan duduk dikawasan lapang itu bagi membincangkan perkara ini. Mereka seterusnya pergi kemasjid bagi melanjutkan perbincangan yang tidak jauh dari tempat itu. Pada waktu itu, malam telah larut dan tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Orang itu berkulit gelap, wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil dan perut buncit. Dia memakai sarung dari kulit domba, juga kain yang dipakainya untuk atas badannya.

“Pada pendapatku, harga pakaiannya semua itu tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bagi menunjukkan bahawa orang itu miskin dan tidak memiliki banyak harta.

Malik mengamati gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wuduk lalu menuju ke mihrab. Dia langsung tidak mempedulikan Malik dan Tsabit yang mengamatinya dari tadi kemudian mengerjakan solat dua rakaat. Solatnya tidak terlalu lama, surah yang dibaca tidak terlalu panjang manakala rukuk dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.

Selesai solat, orang itu menadah tangannya ke langit sambil berdoa. Malik mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang tidak terlalu tinggi tapi boleh didengarnya.

“Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini kerana apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”

Setelah mendengar doa tersebut, angin dingin bertiup.Tidak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Malik dan Tsabit tercengang melihatkan keadaan itu. Mereka berdua menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya lalu terus menghampirinya.

“Wahai pemuda, tidakkah kamu merasa malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Malik bertanya.

“Kata-kata yang mana?” pemuda itu pula bertanya,

“Apabila kau berkata, dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahawa Allah mencintaimu?” sambung Malik.

“Janganlah engkau sibuk atas perkara yang bukan menjadi urusanmu! Dimanakah tempatku ketika aku dapat mengkhususkan untuk beribadah hanya kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Dapatkah aku melakukannya tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku,” jawab pemuda itu. Setelah itu, dia segera berlalu pergi. Malik cuba menahannya.

“Sebentar, semoga Allah merahmatimu. Aku memerlukan sesuatu darimu,” Malik memohon ihsan pemuda itu.

“Aku adalah seorang pembantu yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah tuanku,” jawabnya.

Akhirnya Malik dan Tsabit bersepakat untuk mengikutinya dari jauh. Pemuda itu memasuki rumah seorang yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos. Mereka berhajat untuk bertemu Nakhos bagi mendapatkan pemuda itu. Pagi esoknya, Malik yang memang mengenali Nakhos itu segera menuju rumahnya bertanyakan pemuda itu.

“Adakah engkau mahu menjual salah seorang pembantumu kepadaku” kata Malik tanpa menceritakan hal yang sebenarnya.

“Ya, saya mempunyai seratus orang pembantu. Kamu boleh pilih sesiapa sahaja,” Nakhos berkata. Dia memanggil mereka satu persatu untuk dilihat oleh Malik. Apabila semuanya keluar, Malik tidak bertemu dengan pemuda yang dilihatnya semalam.

“Ada lagikah yang tidak dipanggil?” tanya Malik.

“Ya, Masih ada seorang lagi,” jawab Nakhos.

Ketika itu sudah hampir waktu Zohor, iaitu waktu untuk para pembantu itu berehat. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu bilik yang usang. Di situ, Malik melihat pemuda semalam sedang tidur dengan nyenyaknya.

“Nakhos, dia yang saya mahukan. Ya! Demi Allah dialah pemuda itu,” kata Malik dengan penuh semangat.

Nakhos menjadi hairan. “Wahai Abu Yahyan (Malik), itu budak tidak berguna langsung. Malamnya dihabiskan untuk menangis dan siangnya pula untuk bersolat dan puasa,” kata Nakhos.

“Oh! Kerana itulah aku mahu membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhannya itu, Nakhos memanggil pemuda itu. Pemuda itu keluar dengan mata kuyu dan mengantuk.

“Ambillah budak in. Terserahlah berapa pun harganya agar aku dapat melepaskannya dengan segera,” kata Nakhos kepada Malik. Malik mengulurkan dua puluh dinar sebagai pembayaran atas pemuda itu.

“Siapa nama kau?” tanya Malik masih belum mengetahui namanya.

“Maimun,” jawab pemuda itu ringkas. Malik memimpin tangan Maimun dan dibawa ke rumahnya.

“Mengapakah engkau membeliku sedangkan aku tidak begitu bagus untuk menjadi pembantumu?” Maimun bertanya sambil mereka menuju kerumah.

“Aku membelimu kerana mahu membantumu,” kata Malik.

“Bagaimanakah caranya?” tanya Maimun kehairanan.

“Bukankah kamu yang berdoa di masjid itu semalam?” tanya Malik.

“Jadi, kamu tahu sayalah orangnya?” Maimun kembali bertanya.

“Ya! Dan akulah yang membantah cara kamu berdoamu semalam,” kata Malik.

Maimun meminta untuk dihantar ke masjid. Apabila sampai, dia membersihkan kakinya dan terus mengerjakan solat sunat dua rakaat. Malik hanya diam sambil mengamatinya. Dia ingin tahu apa yang ingin Maimun lakukan. Selesai solat, dia itu mengangkat berdoa seperti yang dilakukannya malam itu. Tetapi kali ini dengan doa yang berbeza.

“Tuhanku, rahsia antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu. Engkau telah memberitahu semuanya. Bagaimana aku boleh hidup dengan tenang di dunia ini kerana telah ada orang ketiga menjadi penghalang antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku sekarang juga,” doanya.

Sebaik sahaja tangannya diturunkan, Maimun sujud. Malik mendekatinya, menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi dia sujud agak lama dan tidak bangun-bangun. Malik menggerakkan badan Maimun, dan mendapati dia tidak bernyawa lagi.
 
Wallahualam.....

 
This Template Was Made & Design With Love By Nabila Medan. All Right Reserved To Me.